RSS

Komposisi dan Prosedur Pembuatan Media   Lactose Broth (SNI 01-2332.1-2006) Komposisi            :
Beef extract                                         3g Peptone                                                 5g Lactose                  5g Aquadest               hingga 1L
  Untuk media yang telah jadi, timbang 13gram kemudian larutkan dengan aquadest  sampai 1L. Sterilisasi pada suhu 121 ºC 15 menit,. pH akhir 6,9 ±2   Selenite cystine Broth (SNI 01-2332.1-2006) Komposisi            :
Tryptone                                               5g Lactose                                                  4g Sodium Acid Selenite(Na2HSo4)       4g Na2HPO4              10g L-Cystine              0,01g Aquadest               hingga 1L
  Timbang sebanyak 23g bubuk selenite cystine larutkan sampai 1 L dengan aquades. Panaskan sampai mendidih agar melarut. Tuang sebanyak 10ml ke dalam tabung reaksi steril. Panaskan 10 menit dalam uap panas. Jangan di autoclave. pH akhir 7,0±,2. media ini tidak steril gunakan pada hari yang sama.   Bismuth Sulfite Agar (SNI 01-2332.1-2006) Komposisi            :
Beef Ekstrak                                        5g Peptone                                                 10g Dextrose                                                5g Na2HPO4 (kering)                                4g FeSO4 (kering)                                     0,3g Bismuth Sulfit (indikator) 8g Briliant Green                       25mg Agar                                       20g Aquadest                               hingga 1L
  Larutkan 52 gram media jadi dengan aquadest hingga 1L. Panaskan dengan pengadukan. Didihkan selama 1 menit untuk mendapatkan suspensi homogen. Dinginkan sampai suhu 45-50ºC. Tuang sebanyak 20 ml ke cawan petri. Biarkan hingga kering selama 2 jam dengan cara membuka sedikit tutup cawan petri, kemudian tutup. pH akhir 7,7 ±2. Jangan di autoclave. Siapkan media ini 1 hari sebelum digunakan dan simpan di tempat yang gelap. Selektivitas akan menurun dalam 48 jam.  Blood Agar (Oxoid) dan SNI 2897 : 2008 Komposisi            :
Tryptone                               15g Soy peptone                         5g Sodium Chloride                  5g Lithium Chloride                 10g Magnesium Sulphate(3/4H2O) 3,8g Agar                                       15g

Larutkan 53,8 gram bubuk media dengan aquadest hingga 1 L. Diamkan 10 menit kemudian sterilisasi pada suhu 121 ºC selama 15 menit. Dinginkan hingga 47ºC. Secara aseptis tambahkan darah domba terdefibrinasi 5%,antibiotik Cycloheximide 2,5%(b/v). Homogenkan dengan menggoyang erlenmeyer. Tuang di petridish. Biarkan hingga mengeras. Media ini dapat disimpan pada suhu 2-8ºC di ruang gelap.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2011 in Food Science

 

Tag: , , , , , ,

Aspartame

Aspartam merupakan pemanis sintetis non-karbohidrat, aspartyl-phenylalanine-1-methyl ester, atau merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanina.

Aspartam dijual dengan nama dagang komersial seperti Equal, Nutrasweet dan Canderel dan telah digunakan di hampir 6.000 produk makanan dan minuman di seluruh dunia. Terutama digunakan di minuman soda dan permen. Belakangan aspartam mendapat penyelidikan lebih lanjut mengenai kemungkinan aspartam menyebabkan banyak efek negatif. Dan akhirnya, pangsa pasarnya mulai berkurang direbut oleh pemanis lain yaitu sukralosa.


Nama kimia N-(L-α-Aspartyl)-L-phenylalanine,
1-methyl ester
Nama lain NutraSweet
Canderel
Equal
Rumus Kimia C14H18N2O5
Massa Molekul 294.301 g/mol
CAS number [22839-47-0]
Titik Lebur 246-247 °C
Titik didih terurai
SMILES [NH3+] [C@@H](CC([O-])=O)C(N[C@@H]
(CC1=CC=CC=C1)C(OC)=O)=O

Sejarah penemuan

Ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte pada tahun 1965 sebagai hasil percobaan yang gagal. Aspartam merupakan dipeptida yang dibuat dari hasil penggabungan asam aspartat dan fenilalanina. Fenilalanina merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampai pesan pada sistem saraf otak.

Sertifikasi kelayakan

Tahun 1981 aspartam mendapat persetujuan dari FDA untuk digunakan pada beberapa jenis makanan. Untuk mendapat persetujuan ini, tentu banyak penelitian ilmiah yang harus ditinjau terlebih dahulu. Setelah dinyatakan aman untuk dikonsumsi, barulah FDA mau menyetujuinya. FDA telah melakukan evaluasi terhadap pemakaian aspartam dalam makanan dan minuman sebanyak 26 kali sejak pertama kali menyetujui penggunaannya. Dan dari bukti-bukti ilmiah yang ada, maka sejak tahun 1996 FDA menyetujui penggunaan aspartam sebagai pemanis buatan yang dapat digunakan dalam semua makanan dan minuman.

Saat ini aspartam telah ada dalam berbagai bentuk, seperti cair, granular, enkapsulasi dan juga tepung. Dengan demikian, aspartam dapat digunakan dalam berbagai bentuk dan jenis makanan maupun minuman. Bentuk enkapsulasi bersifat tahan panas sehingga dapat digunakan untuk produk-produk yang memerlukan suhu tinggi dalam pembuatannya.

Setelah persetujuan diperoleh, bukan berarti tidak ada lagi penelitian lain yang dilakukan. Lebih dari 100 penelitian telah dilakukan sejak tahun 1981, dan sampai saat ini, FDA tidak mengubah pendapatnya. Aspartam kini telah disetujui penggunaannya di lebih dari 100 negara termasuk Indonesia.

Sifat dan kegunaan

Kepala Laboratorium Biokimia Pangan dan Gizi IPB Prof.Dr.ir. Made Astawan MS mengatakan aspartam merupakan pemanis rendah kalori dengan kemanisan 200 kali kemanisan gula (sukrosa), sehingga untuk mencapai titik kemanisan yang sama diperlukan aspartam kurang dari satu persen sukrosa. Seperti banyak peptida lainnya, kandungan energi aspartam sangat rendah yaitu sekitar 4 kCal (17 kJ) per gram untuk menghasilkan rasa manis sehingga kontribusi kalorinya bisa diabaikan sehingga menyebabkan aspartam sangat populer untuk menghindari kalori dari gula.

Keunggulan aspartam yaitu mempunyai energi yang sangat rendah, mempunyai cita rasa manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa buah-buahan pada makanan dan minuman, dapat digunakan sebagai pemanis pada makanan atau minuman pada penderita diabetes.

Metabolisme

Di antara semua pemanis tidak berkalori, hanya aspartam yang mengalami metabolisme. Tetapi proses pencernaan aspartam juga seperti proses pencernaan protein lain. Aspartam akan dipecah menjadi komponen dasar, dan baik aspartam maupun komponen dasarnya tidak akan terakumulasi dalam tubuh.

Dalam keadaan normal, fenilalanina diubah menjadi tirosina dan dibuang dari tubuh. Gangguan dalam proses ini (penyakitnya disebut fenilketonuria atau fenilalaninemia atau fenilpiruvat oligofrenia, disingkat PKU) menyebabkan fenilalanina tertimbun dalam darah dan dapat meracuni otak serta menyebabkan keterbelakangan mental. Penyakit ini diwariskan secara genetik, tubuh tidak mampu menghasilkan enzim pengolah asam amino fenilalanina, sehingga menyebabkan kadar fenilalanina yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh.

Kedua jenis asam amino ini secara alamiah terkandung dalam berbagai makanan berprotein seperti daging, biji-bijian dan juga produk-produk susu. Namun aspartam dapat dibuat secara sintetis di laboratorium.

Keamanan

Aspartam tidak baik untuk penderita fenilketonuria. Fenilketonuria adalah penyakit di mana penderita tidak dapat memetabolisme fenilalanina secara baik karena tubuh tidak mempunyai enzim yang mengoksida fenilalanina menjadi tirosina dan bisa terjadi kerusakan pada otak anak. Dan karena itu perlu untuk mengontrol asupan fenilalanina yang didapatnya. Penyakit ini tidak pernah ditemukan di Indonesia, tetapi pada orang kulit putih, itupun kejadiannya hanya satu per 15.000 orang. Bukan hanya aspartam, tapi juga segala macam makanan yang mengandung fenilalanina termasuk nasi, daging dan produk susu. Karena itu, pada setiap produk yang mengandung aspartam ada tanda peringatan untuk penderita fenilketonuria bahwa produk yang dikonsumsi tersebut mengandung fenilalanina.

Untuk meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaannya, FDA pun memberikan batas-batas pemakaian yang dianjurkan. Istilah yang dipakai adalah Acceptable Daily Intake (ADI) yang berarti asupan harian yang diperbolehkan. Ukuran yang dipergunakan adalah jumlah pemanis per kilogram berat badan per hari yang dapat dikonsumsi secara aman sepanjang hidupnya tanpa menimbulkan risiko. ADI adalah tingkat yang konservatif, yang umumnya menggambarkan jumlah 100 kali lebih kecil dibandingkan tingkat maksimal yang tidak memperlihatkan efek samping dalam penelitian binatang. ADI untuk aspartam adalah 40 mg/kg berat badan.

Akhir-akhir ini banyak isu beredar mengenai penggunaan aspartame ini dengan membawa nama Badan POM. Untuk menyikapi hal ini Badan POM pada tanggal 12 Juli 2006 yang lalu melalui Kepala Biro Hukum dan Humas sudah mengeluarkan surat bantahan mengenai hal tersebut, yang kemudian disusul dengan SURAT – EDARAN Nomor : KH.00.01.234.084 tanggal 11 Agustus 2006 dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Dr. Husniah R. Thamrin Akib, MS, MKes, Sp.FK, Tentang Bantahan Pemberitaan Produk Makanan Yang Mengandung Pemanis Buatan.
Sejauh ini tidak ada pelarangan pengunaan aspartame dalam sediaan makanan, minuman, maupun supplemen asal sesuai dengan anjuran yang berlaku.

Kajian dalam ilmu yang mempelajari pencernaan manusia memperlihatkan bahwa aspartam dimetabolisme dan terurai secara cepat menjadi asam amino, asam aspartat, fenilalanin, dan metanol, sehingga dapat meningkatkan kadar fenilalanin dalam darah. Oleh karena itu pada label, perlu dicantumkan peringatan khusus bagi penderita fenilketonuria.

Untuk meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaannya, FDA memberikan batas-batas pemakaian yang dianjurkan. Istilah yang dipakai adalah acceptable daily intake (ADI) yang berarti asupan harian yang diperbolehkan. Ukuran yang dipergunakan adalah jumlah pemanis per kilogram berat badan per hari yang dapat dikonsumsi secara aman sepanjang hidupnya tanpa menimbulkan risiko. ADI adalah tingkat yang konservatif, yang umumnya menggambarkan jumlah 100 kali lebih kecil dibandingkan tingkat maksimal yang tidak memperlihatkan efek samping dalam penelitian binatang.

Jumlah yang sangat aman inipun hampir-hampir tidak mungkin terlampaui dalam pemakaian umum sehari-hari. Pada kenyataannya, jumlah yang kita konsumsi rata-rata hanya sekitar 10% dari ADI. Hal ini disebabkan oleh tingkat kemanisan yang tinggi dari pemanis-pemanis tersebut. Artinya, jumlah yang sedikit telah mampu memberikan rasa manis yang tinggi. POM mengijinkan aspartam sebagai pemanis buatan dengan ADI (Acceptable Daily Intake) sebanyak 40 mg/kg berat badan.

Penggunaan dalam jangka waktu yang lama dan efek sampingnya
Walaupun FDA sudah menyetujui aspartame (tahun 1981) sebagai pemanis buatan yang aman dikonsumsi, namun berbagai penelitian untuk memastikan keamanan aspartame ini masih terus dilakukan, dan sampai saat ini belum ada laporan penelitian yang didukung oleh data yang akurat menyatakan bahwa aspartame mempuyai efek samping berbahaya seperti yang diisukan akhir-akhir ini (FDA Statement, May 8, 2006)

Aspartame aman digunakan semua usia kecuali penderita PKU (phenylketonuria ), penderita kelainan ini biasanya sudah dideteksi sejak bayi.

Untuk menepis isu yang menghubungkan aspartame dengan kanker sebuah penelitian dilakukan terhadap manusia (bukan hewan/tikus) mengenai aspartame dan laporannya di beritakan 4 April 2006 dalam pertemuan American Association for Cancer Research. Penelitian besar ini menjelaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa minuman soda yang mengandung pemanis aspartam dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Hasil penelitian ini memperbaiki anggapan tentang risiko buruk penggunaan aspartam, kata Michael Jacobson, pemimpin dari Center for Science in the Public Interest, dimana satu tahun yang lalu dikatakan bahwa bahaya aspartam bagi kesehatan dari hasil penelitian terhadap hewan tikus.

Kontroversi aspartam

Belakangan ini keamanan untuk penggunaan aspartam mulai dipertanyakan oleh banyak pihak, namun sertifikasi aman yang telah dikeluarkan oleh FDA dan FSA Eropa akhirnya menyulut kontroversi. Penyelidikan lebih menyeluruh mulai banyak diusulkan untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara aspartam dan banyak efek negatif yang mungkin ditimbulkannya seperti sakit kepala, tumor otak dan limpoma.Semua penemuan ini, ditambahkan kemungkinan akan kebenaran bahaya aspartam membuat masyarakat mulai berpikir ulang untuk menggunakan aspartam


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2011 in Food Science

 

Tag: , , , ,

Alkohol dalam Obat Batuk


Batuk merupakan salah satu penyakit yang cukup sering dialami banyak kalangan. Sehingga batuk diidentikan sebagai reaksi fisiologik yang normal. Batuk terjadi jika saluran pernafasan kemasukan benda-benda asing atau karena produksi lendir yang berlebih. Benda asing yang sering masuk ke dalam saluran pernafasan adalah debu. Gejala sakit tertentu seperti asma dan alergi merupakan salah satu sebab kenapa batuk terjadi.

Obat batuk yang beredar di pasaran saat ini cukup beraneka ragam. Baik obat batuk berbahan kimia hingga obat batuk berbahan alami atau herbal. Jenisnya pun bermacam-macam mulai dari sirup, tablet, kapsul hingga serbuk (jamu). Terdapat persamaan pada semua jenis obat batuk tersebut, yaitu sama-sama mengandung bahan aktif yang berfungsi sebagai pereda batuk. Akan tetapi terdapat pula perbedaan, yaitu pada penggunaan bahan campuran/penolong. Salah satu zat yang sering terdapat dalam obat batuk jenis sirup adalah alkohol.

Temuan di lapangan diketahui bahwa sebagian besar obat batuk sirup mengandung kadar alkohol. Sebagian besar produsen obat batuk baik dari dalam negeri maupun luar negeri menggunakan bahan ini dalam produknya. Beberapa produk memiliki kandungan alkohol lebih dari 1 persen dalam setiap volume kemasannya, seperti Woods’, Vicks Formula 44, OBH Combi, Benadryl, Alphadryl Expectorant, Alerin, Caladryl, Eksedryl, Inadryl hingga Bisolvon.

Penggunaan alkohol dalam obat batuk merupakan polemik tersendiri, terutama di kalangan umat Islam. Bolehkah alkohol digunakan dalam obat batuk? Apakah sama statusnya dengan alkohol pada minuman keras? Sebenarnya apa sih fungsi alkohol ini?

Menurut pendapat salah seorang pakar farmasi Drs Chilwan Pandji Apt Msc, fungsi alkohol itu sendiri adalah untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama. Dosen Teknologi Industri Pertanian IPB itu menambahkan, Berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.

Sedangkan salah seorang praktisi kedokteran, dr Dewi mengatakan, Efek ketenangan akan dirasakan dari alkohol yang terdapat dalam obat batuk, yang secara tidak langsung akan menurunkan tingkat frekuensi batuknya. Akan tetapi bila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut. Berdasarkan informasi tersebut sebenarnya alkohol bukan satu-satunya bahan yang harus ada dalam obat batuk. Ia hanya sebagai penolong untuk ekstraksi atau pelarut saja.

Sebenarnya pada kondisi darurat, obat yang mengandung bahan haram atau najis bisa digunakan. Definisi darurat dalam pandangan fiqih adalah bilamana nyawa seseorang sudah terancam dan pada kondisi tersebut tidak ada alternatif lain yang bisa menyembuhkannya. Pandangan darurat terhadap penggunaan alkohol dalam bahan obat-obatan saat ini merupakan hal yang cukup penting. Terutama dikaitkan dengan status halal dan haramnya. Berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada bulan Agustus 2000 disebutkan bahwa semua jenis minuman keras haram hukumnya, segala sesuatu yang mengandung alkohol itu dilarang karena haram dan minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1 persen, termasuk dalam obat-obatan, tak terkecuali obat batuk.

Penggunaan alkohol berlebih akan menimbulkan efek samping. Chilwan Pandji mengatakan, konsumsi alkohol berlebih akan menimbulkan efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh. Selain itu juga efek sirosis dalam hati, dimana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning). Selain haram, penggunaan alkohol dalam obat akan lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaatnya. Chilwan Pandji menambahkan bahwa pada saat ini telah ditemukan berbagai macam obat alternatif yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk yang mengandung alkohol tersebut.

Bahan obat batuk ini biasanya berasal dari tumbuhan atau sering disebut obat herbal, dimana diketahui tidak membutuhkan alkohol dalam pelarutan zat-zat aktif, tetapi dapat menggunakan air sebagai bahan pelarut. Obat batuk herbal yang berasal dari bahan alami ini pada dasarnya tidak berbahaya, dan dari segi kehalalannya sudah lebih dapat dibuktikan. Dengan banyaknya alternatif obat batuk non alkohol itu maka aspek darurat sudah tidak bisa digunakan lagi. Oleh karena itu sebaiknya kita cari obat batuk non alkohol dan mulai meninggalkan yang beralkohol. Dengan demikian obat yang kita konsumsi terbebas dari bahan haram dan najis.n Jurnal Halal LPPOM MUI.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2011 in Halal Food

 

Tag: , , , , , ,

Kandungan Vitamin C pada Buah

Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang diperlukan oleh tubuh dan berfungsi untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh. Bila dalam tubuh kebutuhan vitamin dan mineral mencukupi, maka segala jenis penyakit dapat dicegah. Mengkonsumsi vitamin C yang juga berfunsi sebagai antioksidan terbukti dapat menangkal virus-virus seperti virus flu, sehingga bila kita cukup memenuhi kebutuhan ini, maka kita akan lebih jarang mengalami flu.

Vitamin ini mudah larut dalam air sehingga bila vitamin yang dikonsumsi melebihi yang dibutuhkan, kelebihan tersebut akan dibuang dalam urine. Karena tidak disimpan dalam tubuh, vitamin C sebaiknya dikonsumsi setiap hari. Dosis yang rata-rata dibutuhkan bagi orang dewasa adalah 60-90 mg/hari. Tapi bisa juga lebih tergantung kondisi tubuh dan daya tahan masing-masing orang yang berbeda-beda. Batas maksimum yang diizinkan untuk mengkonsumsi vitamin C adalah 1000 mg/hari.

Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan gusi berdarah, sariawan, nyeri otot atau gangguan syaraf. Kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi dan kulit kasar. Sementara kelebihan vitamin C dapat menyebabkan diare. Bila kelebihan vitamin C akibat penggunaan suplemen dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan batu ginjal, sedangkan bila kelebihan vitamin C yang berasal dari buah-buahan umumnya tidak menimbulkan efek samping.

Makanan yang mengandung vitamin C umumnya adalah buah-buahan dan sayuran. Buah yang mengandung vitamin C tidak selalu berwarna kuning, misalnya pada jambu biji yang merupakan buah dengan kandungan vitamin C paling tinggi yang dapat kita konsumsi. Bahkan, pada beberapa buah, kulitnya mengandung vitamin C lebih tinggi daripada buahnya. Misalnya pada kulit buah apel dan jeruk walaupun tidak semua kulit buah bisa dimakan.

Untuk mengetahui kandungan vitamin C pada buah, berikut adalah tabel kandungan pada buah-buah yang umum kita temui dalam 100 gram.

Buah Kandungan Vitamin C
(mg/100 gr)
Jambu Biji 183
Kiwi 100
Kelengkeng 84
Pepaya 62
Jeruk 53
Melon 42
Anggur 34
Jeruk Mandarin 31
Buah Sukun 29
Mangga 28
Nanas 15
Pisang 9
Alpukat 8
Kandungan Vitamin C pada Buah
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 21, 2011 in Food Science

 

Tag: , , ,

Media Kultivasi

Ilmuwan hanya mampu mengkultur 10% mikroba dari lingkungan alaminya. Beberapa hal yang menghambat kultivasi mikroba adalah kondisi lingkungan yang sangat spesifik dan tidak dapat dipenuhi oleh kondisi laboratorium, seperti kadar oksigen 4—6%. Tujuan kultivikasi mikroba adalah menumbuhkan mikroba di luar lingkungan alaminya, sehingga mudah dipelajari.

Properti Dasar Media

Media untuk kultivasi mikroba dapat berbentuk cair (broth) maupun padat (agar). Kultur cair sangat bermanfaat untuk menumbuhkan mikroba dalam jumlah besar di lingkungan homogen. Media padat sangat bermanfaat untuk isolasi kultur murni, perhitungan mikroba, dan seleksi galur yang diinginkan. Media padat berisi substabsi yang memadat ketika didinginkan pada suhu kamar. Substansi pemadat yang umum digunakan adalah agar.

Agar adalah ekstrak alga merah dan merupakan rantai panjang polisakarida. Sebagian besar mikroba tidak dapat mendegradasi agar, sehingga tetap stabil dan bertahan lama. Agar mencair pada suhu 100c dan memadat pada suhu 45C. Pemakaian agar menjadi tidak berguna ketika untuk mengkultivasi mikroba termofil ekstrim. Hal ini karena suhu optimal pertumbuhan mikroba tersebut di atas 50C, sehingga agar tetap mencair.

Setiap mikroba memiliki kebutuhan akan nutrien masing-masing. Untuk dapat mengkultivasi Sianobakteri seperti Oscillatoria (fotoautotrofik litotrof) hanya membutuhkan media sederhana (Tabel 6.5). Hal ini karena Oscillatoria mampu menyintesis senyawa organik dari senyawa anorganik dari media kultivasi. Selama kultivasi harus tersedia cahaya dan suhu pertumbuhan diatur. Oksigen atmosferik tidak dipersoalkan, karena selama kultivasi Oscillatoria menghasilkan oksigen. Media pertumbuhan untuk mikroba lainnya dapat dilihat di Tabel 6.6.

Tabel 6.5 Media untuk Sianobakteri

Komponen Jumlah (g/L) Fungsi
MgSO47H2O

CaCl22H2O

NaCl

K2HPO4

NaCO3

Ferric ammonium citrate*

micronutrients mix **

Na2EDTA2H2O*

 

Citric acid*

0.075

0.036

1.000

0.030

0.020

0.006

 

1 ml

 

0.001

 

0.006

Sumber magnesium dan sulfur

Sumber kalsium

Sumber natrium

Sumber kalium dan fosfat

Sumber karbon

Sumber besi

 

Sumber mikronutrien

 

Agen kelating untuk mencegah reaksi mineral selama sterilisasi

Agen kelating untuk mencegah reaksi mineral selama sterilisasi

* Merupakan senyawa organik tetapi tidak mencukupi sebagai sumber karbon karena terlalu sedikit

** Terdiri dari H3BO3, MnCl24H2O, ZnSO47H2O, NaMoO42H2O, CuSO45H2O, dan Co(NO3) 26H2O

 

Tabel 6.6 Komposisi media untuk kultivasi beberapa mikroba

Rhodobacter sphaeroides Nitrosomonas Pseudomonas
Komponen Jumlah (g/L) Komponen Jumlah (g/L) Komponen Jumlah (g/L)
K2HPO43H2O

(NH4)2SO4

Succinic acid

Glutamic acid

Aspartic acid

NaCl

Nitriloacetic acid

MgSO47H2O

CaCl22H2O

FeSO47H2O

Trace elements solution

Vitamin solution

1% Ammonium molybdate

4.44

0.50

4.00

0.10

0.04

0.50

0.20

0.30

0.033

0.002

0.10 ml

0.10 ml

0.02 ml

(NH4)2SO4

MgSO47H2O

CaCl22H2O

KH2PO4

Fe-EDTA

Phenol red

0.50

0.04

0.04

0.20

0.0005

0.0001

Succinic acid

Na2HPO412H2O

KH2PO4

NH4Cl

MgSO47H2O

CaCl26H2O

FeCl36H2O

Agar

5.0

6.0

2.4

1.0

0.5

0.01

0.01

15.0

Jenis Media

Terdapat berbagai jenis media untuk kultivasi mikroba. Media kultivasi dibedakan menjadi 2 kelompok besar yaitu media sintetik terdefinisi (chemical defined media) dan media kompleks (complex media). Media sintetik terdefinisi adalah media dari bahan sintetik dengan komposisi dan kadar yang terdefinisi jelas. Media kompleks adalah media yang mengandung bahan alami dengan komposisi dan kadar yang tidak terdefinisi. Contoh media sintetik terdefinisi adalah media kultivasi Pseudomonas (Tabel 6.6), sedangkan contoh media kompleks adalah media bismuth sulfida agar untuk Salmonella sp. (Tabel 6.7)

Tabel 6.7 Media bismuth sulfifa agar (BSA)

Komponen Jumlah (g/L) Fungsi
Beef extract

 

Peptone

 

Glucose

Na2HPO412H2O

FeSO47H2O

 

Bismuth Sulfite Indicator

Brilliant Green

Agar

5.0

 

6.0

 

5.0

4.0

0.3

 

8.0

0.025

20.0

Sumber asam amino, nukleotida, vitamin dan mikronutrien, juga sumber karbon

Sumber asam amino, nukleotida, vitamin dan mikronutrien, juga sumber karbon

Sumber karbon dan energi

Sumber fosfat dan sebagai buffer pH

Indikator produksi H2S. Sumber besi dan sulfur

Penghambat bakteri gram positif

Penghambat bakteri gram positif

Agen pemadat

 

Media minimal (minimal media) adalah media yang berisi sejumlah nutrien minimal bagi pertumbuhan mikroba. Media minimal termasuk media sintetik terdefinisi. Media minimal diperlukan untuk mempelajari kebutuhan akan nutrisi dan analisis genetik. Media kultivasi Nitrosomonas dan Psuedomonas (Tabel 6.6) termasuk media minimal.

Media kaya (rich media) adalah media dengan komposisi nutrien berlimpah (biasanya dari ekstrak) dan untuk pertumbuhan berbagai jenis mikroba. Kultivasi mikroba patogen biasanya dan analisis genetik menggunakan media kaya. Contoh media kaya dan sering dipakai untuk analisis genetik adalah media Luria Bertani (LB) yang terdiri 10 g/L tripton, 5 g/L ekstrak khamir, dan 10 g/L NaCl.

Media dapat digunakan untuk mengelompokan atau membedakan mikroba. Media selektif (selective media) adalah media formulasi untuk menghambat pertumbuhan mikroba tertentu dan menumbuhkan mikroba yang diinginkan. Media selektif pada dasarnya adalah media untuk mikroba yang diinginkan ditambah faktor penghambat untuk mikroba lain yang dapat hidup di media sama. Media selektif bermanfaat untuk menyeleksi mikroba tertentu (khususnya galur tertentu). Media MacConkey agar (Tabel 6.8) adalah contoh media selektif. Bile salt dan cristal violet merupakan agen penghambat pertumbuhan bakteri gram positif.

Tabel 6.8 Media MacConkey agar

Komponen Jumlah (g/L) Fungsi
Proteose Peptone

 

Lactose

NaCl

Bile Salts

Crystal Violet

Neutral red

Agar

3.0

 

10.0

5.0

1.5

0.001

0.03

13.5

Sember peptida, karbon, energi, mikro dan makronutrien

Sumber karbon dan energi

Kesetimbangan osmotik

Agen penyeleksi

Agen penyeleksi

Indikator pH

Agen pemadat

 

Media diperkaya (enrichment media) adalah media kaya untuk mikroba tertentu. Media diperkaya menyediakan nutrien bagi pertumbuhan mikroba tertentu dan agen penyeleksi untuk menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan. Jadi media diperkaya adalah media selektif yang diperkaya. Contoh media diperkaya adalah media bebas nitrogen untuk isolasi bakteri penambat nitrogen dan media 2,4-D untuk isolasi bakteri pengonsumsi herbisida 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (Tabel 6.9).

Tabel 6.9 Dua media diperkaya

Media Bebas Nitrogen Media 2,4-D
Komponen Jumlah (g/L) Komponen Jumlah (g/L)
Glucose

CaCO3

KH2PO4

MgSO47H2O

FeSO47H2O

NaCl

Na2Mo42H2O

Agar

10.0

1.0

1.0

0.2

0.3

0.2

0.005

15.0

2,4-dichlorophenoxyacetic acid

K2HPO43H2O

NaH2PO4H2O

MgSO47H2O

Nitrilotriacetic acid

NH4Cl

FeSO47H2O

MnSO4H2O

ZnSO47H2O

CoSO4

0.1

 

4.2

1.0

0.2

0.1 ml

2.0

0.012

0.003

0.003

0.001

 

Media diferensial (differential media) adalah media yang tidak mengandung agen penghambat, tetapi mengandung agen pembeda penambakan dua kelompok mikroba berbeda. Media laktosa yang mengandung bromcresol blue yang mampu membedakan penampakan koloni bakteri pemfermentasi laktosa. Media di sekitar bakteri yang mampu memfermentasi laktosa akan berubah warna menjadi kuning. Sebaliknya media di sekitar bakteri tak mampu memfermentasi laktosa tetap berwarna ungu. Kedua jenis bakteri tersebut mampu tumbuh di media laktosa. Selain bromcresol blue media laktosa terdiri atas pepton, beef extract, dan laktosa.

Media harus disterilisasi sebelum digunakan untuk kultivasi dan isolasi mikroba. Sterilisasi yang umum untuk media adalah dengan autoklaf. Namun untuk komponen nutrien yang tidak tahan panas seperti vitamin, antibiotik, dan beberapa asam amino dilakukan filtrasi terpisah dari media pokok. Vitamin dan antibiotik dimasukkan secara aseptis ke media pokok setelah media mendingin dan masih cair.

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 21, 2011 in Food Science

 

Tag: , , ,

Nutrisi Mikroba

Mayoritas komponen seluler adalah karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, dan fosfor dan elemen ini merupakan penyusun utama membran, protein, asam nukleat dan struktur seluler lainnya. Elemen ini diperlukan paling banyak oleh mikroba untuk menyusun komponen selulernya. Oleh karena itu disebut makronutrien. Elemen lainnya yang sedikit diperlukan oleh mikroba untuk menyusun komponen selulernya disebut mikronutrien. Elemen lainnya yang sangat sedikit (bahkan tidak terukur) diperlukan sel untuk menyusun komponen seluler, tetapi harus hadir dalam nutrisinya disebut trace elemen. Semua elemen yang diperlukan oleh mikroba terangkum dalam Tabel 1 dan 2. Faktor pertumbuhan merupakan molekul organik yang penting bagi pertumbuhan tetapi tidak mampu disintesis oleh mikroba sendiri seperti vitamin dan asam amino.

Tabel 1 Elemen Makro- dan makro-nutrien yang diperlukan oleh mikroba

Element % berat kering Sumber Fungsi
Makronutrien

Karbon (C)

 

Oksigen (O)

 

Nitrogen (N)

 

 

Hidrogen (H)

 

 

Fosfat (P)

 

 

Mikronutrien

Sulfur (S)

 

Kalium (K)

 

Magnesium (Mg)

 

Kalsium (Ca)

 

 

Besi (Fe)

 

 

50

 

20

 

14

 

 

8

 

 

3

 

 

 

1

 

1

 

0.5

 

0.5

 

 

0.2

 

Senyawa organik atau CO2

H2O, senyawa organik, CO2, dan O2

NH3, NO3, senyawa organik, N2

 

H2O, senyawa organik, H2

 

Fosfat anorganik (PO4)

 

 

 

SO4, H2S, S, senyawa sulfur organik

Garam Kalium

 

Garam magnesium

 

Garam kalsium

 

 

Garam besi

 

 

Konstituen utama material seluler

Konstituen material dan air seluler, akseptor elektron

Konstituen asam amino asam nukleat, nukleotida, dan koenzim

Konstituen senyawa organik dan air seluler. Penting untuk produksi energi

Konstituen asam nukleat, nukleotida, fosfolipid, LPS, asam teikoat

 

Konstituen sistein, metionin, glutation, koenzim

Kation anorganik utama seluler dan kofaktor enzim

Kation anorganik seluler dan kofaktor enzim

Kation anorganik utama seluler, kofaktor enzim, dan komponen endospora

Komponen sitokrom dan protein, kofaktor enzim

 

Beberapa species mampu memanfaatkan molekul sederhana sebagai sumber makronutrien, mikronutrien, dan trace elemen dan menyintesisnya menjadi molekul kompleks untuk pertumbuhan dirinya. Beberapa species sangat tergantung pada molekul organik sebagai sumber makronutrien, mikronutrien, dan trace elemen.

Tabel 2 Fungsi trace elemen bagi mikroba

Elemen Function
Cobalt

 

Zinc

Mo

 

Cu

 

Mn

 

 

Ni

 

Bagian dari vitamin B12, biasanya digunakan untuk membawa gugus metil

Berperan struktural pada enzim termasuk enzim DNA polimerase

Diperlukan untuk asimilasi nitrogen, ditemukan di nitrat reduktase dan nitrogenase

Berperan katalitik pada beberapa enzim yang bereaksi dengan oksigen seperti sitokrom oksidase

Diperlukan oleh sejumlah enzim pada tempat katalitik. Enzim fotosintetik tertentu mengunakan Mn untuk memecah air menjadi proton dan oksigen

Berperan pada beberapa enzim, termasuk enzim untuk metabolisme CO, urea, dan metanogenesis

 

Ketergantungan terhadap faktor pertumbuhan merefleksikan kemampuan sintesis mikroba dan merefleksikan lingkungan di mana mikroba tumbuh. Jika mikroba tumbuh di lingkungan mengandung (kaya) faktor pertumbuhan, maka mikroba kehilangan kemampuan menyintesis faktor pertumbuhan, karena mikroba dengan mudah mengambil faktor pertumbuhan dari lingkungannya. Beberapa mikroba mampu hidup dengan kondisi lingkungan minimalis, seperti Anabaena variabilis yang dapat tumbuh di media terdiri atas sedikit garam, CO2, N2, dan cahaya. Beberapa mikroba harus tumbuh di lingkungan kaya molekul organik seperti Streptococcus yang hidup di saluran pencernaan. Streptococcus kehilangan kemampuan sintesis sebagian besar senyawa organik. Tabel 3 menunjukkan fungsi vitamin dalam metabolisme seluler

Tabel 3 Vitamin dan fungsinya

Vitamin Bentuk Koenzim Fungsi
Asam Folat

 

 

Biotin

Asam Lipoat

 

Mercaptoethane-asam sulfonat

Asam nikotinat

 

 

Asam Pantotenat

 

Pyridoksin (B6)

Riboflavin (B2)

 

 

 

Tiamin (B1)

 

Vitamin B12

 

 

Vitamin K

 

Tetrahidrofolat

 

 

Biotin

Lipoamida

 

Koenzim M

 

NADP dan NAD (nicotinamide adenine dinucleotide)

Koenzim A dan Protein Pembawa Asil (ACP)

Pyridoksal fosfat

FMN (flavin mononucleotide) dan FAD (flavin adenine dinucleotide)

Tiamin pirofosfat (TPP)

 

Kobalamin berpasangan adenin nukleosida

Kuinon dan naptokuinon

Transfer satu unit C, diperlukan untuk sintesis timin, purin, serin, metionin, dan pantotenat

Reaksi biosintetik dalam fiksasi CO2

Transfer gugus asil dalam oksidasi asam keto

Produksi CH4 oleh metanogen

 

Pembawa elektron, rekasi redoks

 

 

Oksidasi asam keto dan pembawa gugus asil dalam metabolisme

Metabolisme asam amino

Pembawa elektron, reaksi redoks

 

 

 

Dekarboksilasi asam keto dan reaksi transaminasi

Transfer gugus metil

 

 

Proses transport elektron

 

PENGELOMPOKAN NUTRISI

Semua organisme memerlukan karbon, energi dan elektron untuk aktivitas metabolismenya dan bakteri telah dikelompokkan berdasarkan metode memperoleh dan mengunakan ketiga komponen tersebut. Karbon merupakan komponen utama dan penting bagi sistem hidup khususnya sebagai kerangka makromolekul seluler. Mikroba yang memperoleh karbon dari karbon dioksida disebut autotrof, sedangkan mikroba yang memperoleh karbon dari molekul organik disebut heterotrof. Energi untuk keberlangsungan reaksi seluler dapat berasal dari konversi cahaya atau reaksi oksidasi senyawa organik maupun anorganik. Mikroba fototrofik mampu mengkonversi cahaya menjadi energi kimia, sedangkan kemotrofik memperoleh energi dari oksidasi kimiawi baik organik maupun anorganik. Dalam memperoleh energi diperlukan sumber elektron. Mikroba yang memperoleh elektron dari senyawa organik, disebut organotrof, sedangkan yang memperoleh elektron dari senyawa anorganik disebut litotrof.

Tabel 4 Pengelompokan mikroba berdasarkan sumber energi, karbon, dan elektron

Tipe Nutrisional Sumber Energi Sumber Karbon Sumber Elektron Contoh
Fotoautotrofik litotrof

 

 

Fotoheterotrofik organotrof

Kemoautotrofik litotrof

Kemoheterotrofik organotrof

Cahaya

 

 

Cahaya

 

Kimiawi (H2, NH3, H2S)

Senyawa organik

CO2

 

 

Senyawa organik

CO2

 

Senyawa organik

Senyawa anorganik (H2O / H2S)

Senyawa organik

Senyawa anorganik

Senyawa organik

Sianobakteri, bakteri ungu dan hijau

 

Bakteri ungu dan hijau

 

Bakteri dan Arkhaea

 

Kebanyakan bakteri dan sedikit Arkhaea

 

Dengan mengkombinasi terminologi di atas, maka diperoleh model nutrisional dari mikroba. Sebagai contoh kemoorganotrofik heterotrof adalah mikroba yang memperoleh energi dari oksidasi kimiawi, sumber elektron dan karbon dari senyawa organik. Mikroba fotoautotrofik litotrof adalah mikroba yang memperoleh energi dari konversi cahaya, sumber elektron dan karbon dari senyawa anorganik. Tabel 4 Menunjukkan pengelompokan mikroba berdasarkan sumber karbon, elektron, dan energi.

Metode pengelompokan mikroba berdasarkan nutrisinya penting dalam mempelajari mikroba. Terdapat mikroba yang mampu tumbuh dengan lebih dari 1 model nutrisional, seperti Rhodobacter sphaeroides yang umumnya fototrofik litotrof (sumber energi, karbon, dan elektron adalah cahaya, CO2 dan H2S). Namun pada kondisi lingkungan gelap, maka model nutrisionalnya berubah menjadi kemoheterotrofik organotrof (sumber energi adalah oksidasi kimiawi dan karbon dan elektron adalah senyawa organik). Beggiatoa sp mampu melaksanakan lebih dari satu model nutrisional secara bersamaan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 21, 2011 in Food Science

 

Tag: , , , ,

HATI-HATI TERHADAP BAHAN HARAM PADA KOSMETIKA

Kosmetika saat ini menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari dunia kaum hawa (akhwat). Kosmetika ini seakan-akan menjawab kegelisahan kaum hawa yang sering merasa kurang cantik bila belum bersentuhan dengan kosmetika. Setelah menggunakan kosmetika, para wanita akan merasa lebih percaya diri, lebih cantik, dan lebih menarik perhatian.

Kosmetika adalah bahan yang sengaja dipakai untuk tujuan lebih mempercantik penam-pilan diri si pemakai. Diharapkan oleh pemakai, bagian tubuh yang dikenai kosmetika akan tampil lebih cantik, lebih menarik, lebih lembut, lebih muda, lebih segar, dan lebih menawan.

Apabila dikelompokkan, maka terdapat bermacam-macam kosmetika. Menurut bentuknya, kosmetika dapat dibedakan menjadi kosmetika yang berbentuk bedak, lotion, gel, dan padat.

Kosmetika yang berbentuk bedak (serbuk) dapat dipakai pada seluruh anggota tubuh, terutama muka, badan, dan anggota gerak (tangan dan kaki). Kosmetika yang berbentuk lotion (cair) dapat dipakai pada seluruh anggota tubuh, terutama muka, badan, dan anggota gerak (tangan dan kaki). Kosmetika dengan bentuk konsistensi gel terutama dipakai untuk dioleskan pada rambut, dll. Kosmetika yang berbentuk padat sering kali dalam bentuk sabun, lipstik, dll.

Titik kritis kehalalan produk kosmetika

Beberapa macam bahan baku kosmetika dan produk kecantikan yang harus diperhatikan status kehalalannya adalah:


1. Kolagen dan elastin

Kolagen adalah sejenis protein jaringan ikat yang liat dan bening kekuning-kuningan. apabila kena panas, kolagen akan mencair menjadi cairan yang agak kental seperti lem.

Kolagen dan elastin sangat penting untuk proses pertumbuhan sel/jaringan (regenerasi), makanya kolagen sangat penting untuk proses regenerasi sel, menjaga kelenturan kulit, serta mencegah kekeriputan kulit. Karena fungsinya yang sangat signifikan pada peremajaan kulit, maka saat ini kedua macam protein tersebut banyak dipakai sebagai bahan kosmetik.

Kolagen memiliki efek melembabkan karena kolagen tidak larut air, tetapi sebaliknya, mampu menahan air. Oleh karena itu, senyawa protein ini banyak dipakai pada produk-produk pelembab.

Selain untuk beberapa fungsi di atas, kolagen juga penting untuk menjaga kekebalan tubuh, serta mencegah infeksi dan alergi. Kemampuan kolagen tersebut disebabkan karena kolagen memiliki antigen yang bersifat imunogenik. Antigen yang imunogenik ini mampu berikatan dengan antibodi spesifik, tetapi juga mampu menghasilkan antibodi spesifik terhadap antigen. Nah, antibodi terhadap antigen inilah yang perlu dirangsang bagi penderita rematik.

Kolagen bisa berasal dari sapi atau babi. Oleh karena itu, harus dipastikan apakah kolagen dan elastin tersebut berasal dari hewan haram (babi) atau bukan.


2. Ekstrak plasenta

Saat ini di pasaran banyak beredar kosmetika berplasenta. Mengapa kosmetika berplasenta sangat digemari produsen kosmetika dan begitu diminati konsumen? Hal ini disebabkan karena kosmetika berplasenta memiliki efek yang signifikan untuk mencegah penuaan kulit, serta mampu meremajakan kulit, menga-tasi keriput kulit, menghaluskan dan melem-butkan kulit, dan membuat kulit lebih nampak segar sebagaimana layaknya kulit bayi.

Plasenta adalah organ tubuh yang berkembang pada saat manusia atau hewan mengandung anaknya. Ketika janin masih berada dalam kandungan, janin belum mampu makan dan minum sebagaimana manusia yang sudah lahir. Untuk mencukupi kebutuhan gizi bagi pertumbuhannya, maka Allah menciptakan plasenta sebagai sumber makanannya. Plasenta ini berisi zat-zat gizi dan zat-zat pertumbuhan yang sangat dibutuhkan bayi sebagai makanan. Pemasukan nutrien (zat gizi) ke dalam tubuh si bayi dilakukan melalui saluran plasenta yang bermuara pada pusar.

Pada saat bayi dilahirkan, plasenta ikut keluar. Saluran yang menghubungkan antara plasenta dan pusar bayi dipotong. Di Pulau Jawa (DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur), plasenta diku-burkan di suatu tempat, bahkan dengan ritual dan tradisi tertentu. Akan tetapi, di tempat lain, plasenta tidak pernah diistimewakan.

Plasenta (dikenal pula dengan istilah ‘ari-ari’) memiliki bobot sekitar 600 g dengan diameter 16-18 cm, mengandung 200 ml darah yang mengisi cairan spon. Plasenta kaya akan darah dan protein (albumin), hormon (oestrogen), serta senyawa lain (DNA dan RNA). Albumin sendiri adalah senyawa pengganti plasma darah yang mengandung -globulin, immuno-globulin (IgA dan IgG), dan asam amino. Hasil riset menunjukkan bahwa zat-zat terse-but terbukti cukup efektif untuk merawat kulit, seperti mencegah kerut, mencegah penuaan dini, dan mempertahankan kesegaran kulit. Bahkan dii Jepang dan Switzerland, kolagen dan plasenta manusia telah lama dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kosmetika.

LPPOM MUI Pusat pernah menemukan beberapa perusahaan kosmetika menggunakan plasenta manusia, seperti : La Tulipe (PT. Rembaka, Sidoarjo, Jawa Timur), Musk by Alyssa Ashley, StYves, Snow White Lily (Yoshihiro Clinic, Tokyo-Japan), dll. Kosme-tika dan obat-obatan yang terbuat dari plasenta binatang yang diharamkan atau dari manusia hukumnya haram. Kosmetika dan obat-obatan yang terbuat dari plasenta bina-tang yang halal hukumnya halal (Fatwa MUI No. 2, Munas IV 30 Juli 2000).

 

3. Cairan Amnion

Cairan amnion (amniotic liquid) adalah cairan ketuban yang berada di sekitar janin dalam kandungan yang berfungsi melindungi janin dari benturan fisik. Pada saat kelahiran, se-laput ketuban pecah dan cairan amnion keluar mendahului janin. Selain sebagai buffer, cairan ini juga berfungsi sebagai pelicin (lubricant) pada saat janin dilahirkan.

Keuntungan penggunaan cairan amnion kurang lebih sama dengan plasenta, tetapi penggunaannya terbatas pada pelembab, lotion rambut, shampo, serta perawatan kulit dan kepala. Sebagai konsumen muslim, maka hendaknya kita lebih berhati-hati. Kita harus memastikan, dari mana asal cairan amnion ini, apakah dari saluran reproduksi (rahim) sapi, manusia, atau dari hewan haram. Apabila berasal dari rahim manusia dan atau hewan haram, maka kosmetika ini harus dijauhi.

4. Lemak

Lemak dan turunannya (terutama Gliserin) banyak dipakai sebagai bahan baku pembuatan kosmetika, seperti pada pembuatan : lipstik, sabun mandi, krim, lotion (facial lotion, hand & body lotion). Penggunaan kosmetika yang mengandung lemak diyakini banyak memban-tu menghaluskan kulit.

Tentunya tidak menjadi masalah apabila bahan lemak yang dipergunakan berasal dari hewan yang dihalalkan. Akan tetapi, apabila lemak (dan turunannya) yang dipakai adalah lemak hewan yang diharamkan (babi), maka penggu-naan kosmetika berlemak babi tersebut tentunya juga diharamkan.

 

5. Vitamin

Vitamin A, B1, B3, B6, B12, D, E, dan K banyak dipakai dalam kosmetika. Produsen kosmetika menganggap vitamin mampu mensuplai kebutuhan gizi bagi kulit. Meskipun demikian, Stanley R. Milstein, Ph.D. (Direktur FDA Divisi Kosmetika) tidak menemukan adanya bukti klinis bahwa vitamin dapat mensuplai gizi secara langsung melalui kulit.

Vitamin-vitamin tersebut di atas memiliki sifat tidak stabil. Oleh karena itu, agar keadaannya tidak berubah-ubah, vitamin harus distabilkan dengan bahan pelapis tertentu (coated agents). Bahan penstabil yang sering dipakai di antaranya adalah gelatin, karagenan, gum, atau pati termodifikasi.

Gelatin umumny berasal dari tulang sapi atau babi. Apabila bahan pelapis yang dipergunakan adalah gelatin, maka harus diperhatikan apakah gelatin yang dipakai berasal dari produk nabati atau hewani. Kalau gelatin hewani, apakah berasal dari hewan halal atau dari hewan haram.

 

6. Asam Alfa Hidroksi

Asam Alfa Hidroksi (AHA) adalah suatu senyawa kimia yang sangat berguna untuk mengurangi keriput dan memperbaiki tekstur kulit. Kosmetika yang menggunakan AHA akan membuat kulit terasa lebih halus, kenyal, dan mantap.

Senyawa AHA banyak macamnya. Salah satu senyawa AHA yang banyak dipakai pada industri kecantikan adalah asam laktat (lactic acid). Dalam pembuatannya, senyawa ini menggunakan media yang berasal dari hewan. Nah, oleh karena itu, harus dipastikan apakah media yang dipergunakan adalah hewan halal atau hewan haram.

 

7. Hormon

Untuk memberikan hasil yang lebih memuas-kan, maka pada produk-produk kosmetika sering ditambahkan hormon, seperti : hormon estrogen, ekstrak timus, maupun hormon melantonin. Hormon-hormon tersebut adalah animal origin hormone, yaitu hormon yang berasal dari hewan. Oleh karena itu, harus dipastikan apakah hormon yang dipergunakan berasal dari hewan halal atau hewan haram.

Catatan :

  • Penulis adalah Sekretaris Eksekutif LPPOM MUI Propinsi DIY dan Dosen Fak. Peternakan UGM.
  • Informasi lebih lanjut hub. Mobile : 081 2277 6763
  • Related site : http://www.indohalal.com

Sumber : Nanung Danar Dono, S.Pt., MP.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 21, 2011 in Halal Food

 

Tag: , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.